Beranda Investigasi Jerit Pilu Nenek Ellen Harapkan Keadilan di Usia Senja

Jerit Pilu Nenek Ellen Harapkan Keadilan di Usia Senja

Modusinvestigasi.Online, Bandung – Tidak ada seorangpun yang akan menyangka bahwa kehidupan kedepannya akan seperti apa. Begitu juga dengan Ny. Ellen Plaissaer Sjair, seorang pensiunan guru SMPK BPPK Bandung yang berusia 80 tahun.

Janda dari almarhum Peter S Danoewinata yang kini hidup sebatang kara dan tidak memiliki anak kandung.

Kini nenek Ellen harus meratapi hidupnya disisa usianya yang sudah menua, Dia berjuang sendirian untuk mempertahankan rumah yang akan di eksekusi PN Bale Bandung. Rumah satu satunya yang merupakan warisan dari almarhum suaminya.

Menurut nenek Ellen, sebelum meninggal, suaminya membuat surat wasiat, dimana almarhum suaminya memberikan rumah kepada nenek Ellen dan kepada cucu tirinya yang berinisial IW. Dimana IW ini adalah cucu hasil perkawinan suaminya terdahulu.

Namun pada sekitar 2013 Sertifikat rumah yang diwasiatkan pada nenek Ellen, dicuri oleh IW dan memalsukan tanda tangan nenek Ellen pada Surat kuasa menjual yang isinya seolah-olah si nenek Ellen memberikan kuasa kepada IW untuk menjual rumah.

“Pada tahun 2015, saya melaporkan IW ke polisi atas dugaan tindak pidana pemalsuan tanda tangan, dan IW pun terbukti bersalah dan telah dipenjara selama 2 tahun pada tahun  2017, ” tutur nenek Ellen.

Notaris FL yang terlibat dalam pembuatan surat kuasa menjual juga telah dinyatakan bersalah oleh Majelis Pengawas Daerah Notaris.

Menurut nenek Ellen, pembeli yang membeli rumah dari IW, menggugat  untuk segera mengosongkan dan menyerahkan rumah.

Perkarapun melimpah ke Pangadilan dan Nenek Ellen kalah dalam persidangan melawan pembeli tersebut, bahkan sampai tingkat peninjauan Kembali di Mahkamah Agung.

Atas putusan- putusan  yang mengalahkan Nenek Ellen, mengakibatkan dipaksa untuk mengosongkan dan menyerahkan rumah tersebut.

Seharusnya IW mengganti atau mengembalikan uang kepada pembeli, karena IW telah memalsukan tandatangan.

Melalui kuasa hukumnya Bobby Herlambang Siregar, S.H.dari kantor hukum Williard Malau, mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri Bale Bandung Kelas 1A untuk menunda proses eksekusi.

“Alasan kami mengajukan penundaan eksekusi, karena  kami akan mengajukan gugatan perdata untuk membatalkan Akta Jual Beli yang cacat hukum tersebut,” ujar Bobby Herlambang Siregar, S.H.

Tetapi gugatan tersebut oleh Majelis Hakim Pemeriksa Perkara dinyatakan tidak dapat diterima (Niet Onvankelijkevaanklard) dengan alasan penerapan asas Nebis in Idem.

Bobby menambahkan seandainya penerapan azas nebis in idem tersebut telah tepat, maka kami melayangkan pertanyaan kepada para pakar dan ahli hukum dan pemegang keputusan di negeri ini, kemanakah dan bagaimanakah nenek Ellen  dapat mengadukan kedzaliman yang dideritanya?

“Di usianya yang semakin menua, nenek Ellen seharusnya dapat tinggal dengan damai, apalagi rumah tersebut kenangan dari mendiang suaminya,” ujar Bobby Herlambang Siregar, S.H.

Setelah runtutan kejadian menyakitkan tersebut, Nenek Ellen menolak untuk menuntut ganti kerugian satu rupiahpun baik kepada IW ataupun pembeli, hanya memohon belas kasih agar rumah tersebut tidak diambil paksa. (MP. Nasikin)

Tinggalkan Balasan