Beranda Daerah Dedi Mulyadi Dijemput Massa Demo, Pecat Ateria Dahlan Sebagai Wakil Rakyat

Dedi Mulyadi Dijemput Massa Demo, Pecat Ateria Dahlan Sebagai Wakil Rakyat

Modusinvestigasi.Online, PURWAKARTA  – Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Dedi Mulyadi dijemput oleh massa yang melakukan aksi unjuk rasa, mereka turun ke jalan menuntut agar Arteri Dahlan dipecat dari jabatannya sebagai wakil rakyat.

Ateria dinilai telah menciderai ke bhinekaan, persatuan dan menyulut perpecahan di NKRI ini, sehingga layak Arteria diberhentikan dari jabatannya sebagai Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Aksi massa meminta ke Dedi Mulyadi yang juga sebagai tokoh Sunda untuk bisa mengadvokasi agar Arteria Dahlan keluar dari parlemen, karena pernyataannya telah menyakiti masyarakat Sunda.

“Ini bahaya bagi keutuhan NKRI, karena bisa menyulut seluruh masyarakat sunda,” ujar salah seorang perwakilan aksi.

Sementara itu, menurut Dedi Mulyadi, sebagai anggota DPR RI harus berpegang teguh pada Undang-undang MD3 baik di dalam gedung maupun luar gedung. Ucapan yang disampaikan Ateria tidak bisa dipidana.

Sikap Arteri Dahlan telah menyampaikan permintaan maaf dihari kemarin. Akan tetapi jika kalian (aksi massa) tetap bersikukuh tidak cukup pada permintaan maaf, melainkan meminta yang bersangkutan diberhentikan sebagai wakil rakyat itu kewenangannya ada di MKD.

“Kewenangan yang menentukan bersalah atau tidak seorang anggota dewan adalah Majelis Kehormatan Dewan (MKD). Seseorang tidak bisa diberhentikan begitu saja tanpa ada putusan hukum yang jelas,” kata Dedi Mulyadi, memberikan pemahaman kepada massa peserta aksi.

Terlebih lagi antara Dedi Mulyadi dan Ateria Dahlan berlainan partai, secara subjektif dirinya tidak bisa mengomentari mengenai kewenangan yang dimiliki oleh partai lain.

Dedi berpendapat bahwa kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi Arteri Dahlan, jika berbicara harus hati-hati agar tidak menyinggung pihak atau kelompok lain, baik secara personal maupun kelembagaan atau komunitas.

“Justru kita harus berfikir lebih bijak dan masalah ini dijadikan momentum, untuk kembali mengingatkan bahasa ibu sebagai orang sunda ya bahasa sunda. Lebih jauhnya kalau Kejaksaan berani berbicara sunda di forum, kenapa pejabat di daerah Jawa Barat tidak mau berbicara Sunda. Ini adalah forum yang sekaligus untuk mengingatkan kita, agar jangan malu berbicara Sunda,” tutup Dedi Mulyadi, panjang lebar. (Red)

Tinggalkan Balasan